Sawung Jabo [Closing] Pasar Raya FKY

Pasar Raya FKY yang sudah berjalan sebulan ini akan di tutup Senin besok. Pasar seni yang menghadirkan karya kerajinan berbagai usaha kecil menengah yang ada di Yogyakarta ini banyak diminati pengunjung arena FKY. Di arena Pasar Raya ini terdapat 127 stand yang terdiri dari 36 stand dari pengrajin kecil yang terjaring oleh program Orang Tua Asuh Pasar Raya FKY XX 2008 berdampingan dengan 91 stand lainnya. 

Di acara penutupan nanti yang akan diselengarakan di Flying Stage dan arena pasar raya, menghadirkan Sawung Jabo, Sirkus Barok, Totok Tewel, dan Inisisri. Siapa yang ingin menyaksikan aksi panggung Sawung Jabo, silahkan datang ke arena Pasar Raya FKY XX 2008, Senin 7 Juli 2008 pukul 19.00.

Antologi Film 10 Tahun Reformasi

Meruapakan salah satu agenda Mari Menonton Biskop FKY XX 2008 yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 5 Juli 2008 pukul 19.00 WIB di Ruang F/Ruang Pamer Audio Visual Benteng Vredeburg.

Reformasi yang sudah berjalan satu dekade memang belum sepenuhnya dapat menyembuhkan bangsa yang ’sakit’ ini, malah dalam beberapa lini justru menunjukkan ‘kebobrokan yang tambah parah’. Untuk mengenang dan menghormati perjuangan kaum muda Indonesia pada tragedi Mei 1998, panitia FKY XX 2008 menyelenggarakan program pemutaran film Antologi Film 10 Tahun Reformasi. Kemasan acara bertajuk “9808: Antologi 10 Tahun Reformasi” ini menyiapkan sejumlah film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei 1998.

Berbagai judul film tersebut yang saya dapatkan melalui hasil googling antara lain : 

  1. Di mana Saya? / Where was I? [2008]
    oleh Anggun Priambodo
  2. Sugiharti Halim [2008]
    oleh Ariani Darmawa
  3. Trip To The Wound [2007]
    oleh Edwin
  4. Bertemu Jen / Meet Jen [2008]
    oleh Hafiz
  5. Huan Chen Guang / Happiness Morning Light [2008]
    oleh Ifa Isfansyah
  6. A Letter of Unprotected Memories [2008]
    oleh Lucky Kuswandi
  7. Kemarin / Yesterday [2008]
    oleh Otty Widasari
  8. Yang Belum Usai / The Unfinished One [2008]
    oleh Ucu Agustin
  9. Sekolah Kami, Hidup Kami / Our School, Our Lives [2008]
    oleh Steven Pillar Setiabudi
  10. Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran / Chronicles of a (former) Demonstrator [2008]
    oleh Wisnu Suryapratama

Semoga dengan pemutaran film ini akan menyebabkan terusiknya pemikiran kaum muda mengenai penolakan untuk melupakan sejarah dan pemberdayaan masyarakat untuk menyampaikan sesuatu melalui berbagai media.

Menggali Fosil di Nitiprayan

Performa Yoko Ishiguro (を現代に) sore ini di petak sawah belakang pendopo kesenian Nitiprayan, benar-benar memukau, mengundang decak kagum para penonton. Meski awalnya penonton masih bingung, tapi kemudian suasana bisa mencair, performer dan penonton membaur sekaligus.

Diawali dengan Yoko yang bergaun panjang warna hitam, rambut(wig)nya panjang. Dia datang dari sebelah selatan, jauh dari kerumuman penonton yang sudah menungguinya di petak sawah itu. Perlahan-lahan dia mendekat, kecuali orang yang sudah kenal dia sebelumnya pasti tak akan menduga jika sang artis akan datang secara tiba-tiba dan arah yang tak diduga-duga. Halah.

Sebentar dia menari, lalu mulailah penggalian dilakukan oleh Yoko. Baru sebentar menggali, dia menemukan sebuah handphone! Lalu dia mencoba untuk mengunakan handphone tersebut. Ilustrasi suara sound system memperdengarkan percakapan antara seorang wanita dan anak kecil yang berdiskusi tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan living fosil dalam pentas ini. 

Lamat-lamat dijelaskan, bahwa living fossil adalah mencari masa lalu. Masa lalu yang telah terkubur jauh di bawah kaki kita, sebenarnya masih ada dan bisa dihadirkan kembali. Memori yang ada di dalam fikiran kita akan pergi ke suatu tempat di dalam otak kita, dan kadang kadang tidak pernah muncul kembali. Inilah kemudian yang disebut dengan “forgetfulness”

Kemudian berturut-turut Yoko menggali dan menemukan berbagai barang lainnya, seperti laptop, makanan, rice cooker (sekaligus dia memakan nasi yang ada di dalamnya), mainan bocah, televisi dan sepeda! 

Di tengah-tengah pentas, tiba-tiba seekor anjing melintas. Anjing tersebut dikejar oleh Yoko sampai jauh ke kampung, lalu Yoko hilang. Tak lama setelah itu, Yoko muncul dari arah barat dengan menggunakan kostum lain, wig-nya dilepas. Kali ini  dia bermain layangan, tertawa-tawa sendiri, bermain dengan anak-anak kampung. Kemudian Yoko perlahan menuju petak sawah tempat dia menggali tadi. Dia mengundang para penonton untuk bergabung, dan secara bersama-sama (beberapa diatara) kami membantu Yoko menggali sisa-sisa barang yang ada.  Selanjutnya kami menyaksikan beberapa video yang disaksikan melalui layar sebuah macbook putih. Dan macbook itu digeletakkan begitu saja di tanah sawah. Hihihihi.

Melihat aksi Yoko Ishiguro ini kemudian mengingatkan saya pada kebiasaan kita jaman kecil dulu. Untuk yang cowok, mungkin pernah menyembunyikan kelereng setelah musim bermain kelereng berakhir, dan akan membukanya saat musim kelereng tahun depan datang. Atau mungkin orang dewasa juga melakukannya? Yang jelas, hal paling berharga dari setiap kehidupan dan tidak pernah hilang adalah kenangan. Setiap dari kita pasti akan menjadikan kenangan itu terus berharga, terus eksis dalam setiap perubahan jaman yang kita lalui.

Matahari di Nitiprayan sudah tenggelam. Langit sudah mulai gelap. Para penonton sudah mulai membubarkan diri. Beberapa lainnya menikmati nasi angkringan yang tersedia gratis untuk penonton acara Living Fossil. Acara ini memang tidak ditutup secara seremonial, penonton dibiarkan terus menggali ingatan paling purba dalam dirinya untuk disajikan malam ini. Sepanjang jalan kembali ke kost saya juga melakukannya. 

Halaman Berikutnya »